Konstruksi Sita Administratif Komoditas PETI untuk Pemulihan Aset Negara

Authors

  • Andri Suhindra Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
  • R. Lina Sinaulan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

DOI:

https://doi.org/10.59261/jlsp.v4i4.169

Keywords:

Sita Administratif, PETI, Pemulihan Kekayaan Negara, Pertambangan, Hukum Administrasi

Abstract

Latar Belakang: Artikel ini mengkaji konstruksi hukum penyitaan administratif terhadap komoditas hasil pertambangan tanpa izin (PETI) sebagai instrumen pemulihan aset negara. Permasalahan utama adalah belum adanya kerangka normatif yang secara jelas memungkinkan negara mengamankan komoditas PETI melalui mekanisme hukum administrasi, sementara proses pidana sering membutuhkan waktu panjang sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya, berpindahnya, atau disembunyikannya aset tersebut.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan merumuskan konstruksi hukum penyitaan administratif terhadap komoditas PETI dengan menganalisis dasar konseptual, kewenangan, prosedur, dan perlindungan hukum dalam perspektif hukum administrasi Indonesia. Penelitian ini juga bertujuan mengembangkan model pemulihan aset yang mampu menyeimbangkan kepentingan perlindungan aset negara dan hak hukum masyarakat.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif terbatas. Bahan hukum dianalisis secara preskriptif untuk merumuskan model kewenangan, prosedur, dan perlindungan hak.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas PETI dapat dikonstruksikan sebagai objek yang berkaitan dengan penguasaan negara atas sumber daya alam dan potensi kerugian kekayaan negara. Penyitaan administratif harus diposisikan sebagai tindakan pemerintahan untuk mengamankan objek, bukan sebagai bentuk pemidanaan. Pelaksanaannya harus memenuhi prinsip legalitas, kewenangan, proporsionalitas, akuntabilitas, transparansi, dan due process of law. Model yang ditawarkan meliputi identifikasi objek, penetapan penyitaan, inventarisasi, penyimpanan atau penjualan awal, mekanisme rekening penampungan, keberatan, pengawasan, serta integrasi dengan proses pidana dan perdata.

Kesimpulan: Penyitaan administratif terhadap komoditas PETI perlu diatur secara eksplisit dalam regulasi pertambangan dan pemulihan aset negara untuk menjamin efektivitas pemulihan aset tanpa mengabaikan kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat.

References

Adom, R. K., & Simatele, M. D. (2025). Assessing the implications of organised illegal and informal mining activities on the environment in South Africa. AMBIO, 55(3), 558–570. https://doi.org/10.1007/s13280-025-02251-4

Andrianingtyas, R. (2019). Tindakan Penyitaan Terhadap Penanggung Pajak Kendaraan Bermotor Oleh Juru Sita (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).

Arwanto, B. (2018). Kewenangan Ptun Dalam Menyelesaikan Sengketaperbuatan Melanggar Hukum Oleh Pemerintah (Onrechmatige Overheidsdaad). Jurnal Jatiswara, 33(2). https://doi.org/10.29303/jatiswara.v33i2.172

Asshiddiqie, J. (2010). Konstitusi Ekonomi. Kompas.

Bastomi, Q. K., Nurjaya, I. N., & Istislam, I. (2025). Criminal Mediation in the Settlement of Unlicensed Small-Scale Mining Crimes in the Jurisdiction of the East Java Regional Police. Jurnal Ius Constituendum, 10(3), 415–431. https://doi.org/10.26623/jic.v10i3.12276

Buli, W., Bakri, S., & Febryano, I. G. (2018). Kelembagaan Pertambangan Batubara di Hutan Rakyat (Coal Mining Institution in Private Forest). Jurnal Sylva Lestari, 6(3), 81–90. https://doi.org/10.23960/jsl3681-90

Dixit, S., Dhadge, Y., Ingawale, M., Joshi, N., & Anarase, V. (2023). A Comprehensive Software Solution for Management of Coal Mines. 10, 1183–1189. https://doi.org/10.1109/icscss57650.2023.10169352

Efendi, N., Frinaldi, A., Rembrandt, Lanin, D., Umar, G., & Gusman, M. (2023). Pertambangan Emas Tanpa Izin (Peti): Dampak Lingkungan, Sosial Dan Ekonomi Serta Peranan Hukum Lingkungan. Jurnal Ilmiah Multidisiplin Nusantara (JIMNU), 1(3), 123–128. https://doi.org/10.59435/jimnu.v1i3.57

Fadhila, Y. R. (2025). Perlindungan Pihak Ketiga Beriktikad Baik Dalam Non-Conviction Based Asset Forfeiture. JURNAL USM LAW REVIEW, 8(3), 2075–2105. https://doi.org/10.26623/julr.v8i3.12263

Greenberg, T. S., Samuel, L. M., Grant, W., & Gray, L. (2009). Stolen Asset Recovery: A Good Practices Guide for Non-Conviction Based Asset Forfeiture. In RePEc: Research Papers in Economics. Federal Reserve Bank of St. Louis. https://doi.org/10.1596/978-0-8213-7890-8

Hadjon, P. M., Martosoewignjo, S. S., & Basah, S. (2005). Pengantar hukum administrasi Indonesia.

Hafidz, J., Fitri, D. A., Azam, M., Arifullah, A., & Wiranto, A. P. (2024). The Corruption Reduction with an Administrative Law Approach: Evidence from Australia. Journal of Human Rights Culture and Legal System, 4(3), 822–841. https://doi.org/10.53955/jhcls.v4i3.396

Herdiana, A. D. (2026). Procedural Law Dualism in Asset Forfeiture Regime: Conflict of Evidentiary Norms and Judicial Oversight Regarding Human Rights Protection. SIGn Jurnal Hukum, 7(2), 1146–1161. https://doi.org/10.37276/sjh.v7i2.625

Hr, R. (2014). Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Indonesia, N. R. (1945). UUD Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, (2020).

Indonesia, P. R. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

Juliani, H. (2020). Pertanggungjawaban Pejabat Pemerintahan Sebagai Akibat Penyalahgunaan Wewenang Yang Menimbulkan Kerugian Negara. Administrative Law & Governance Journal, 3(1), 54–70. https://doi.org/10.14710/alj.v3i1.54-70

Kontu, H. R., Marwiyah, S., Prawesthi, W., & Amiq, B. (2024). Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Pertambangan Emas Tanpa Ijin (Studi Kasus Putusan Nomor 107/Pid.Sus/2023/PN.Thn). Lex journal kajian hukum dan keadilan, 8(1), 269–285. https://doi.org/10.25139/lex.v8i1.10167

Lahiri-Dutt, K. (2018). Between the Plough and the Pick: Informal, artisanal and small-scale mining in the contemporary world. In ANU Press eBooks. ANU Press. https://doi.org/10.22459/bpp.03.2018

Marpaung, M., & Yugopuspito, P. (2024). Blockchain-Based Coal Mining Concession Production Monitoring System. 1–4. https://doi.org/10.1109/ictiia61827.2024.10761749

Marzaman, A. P., & Mokoagow, T. F. (2020). An Analysis of Socio-Ecological Impact of Unauthorized Gold Mining in West Dumoga, Bolaang Mongondow District, North Sulawesi Province. https://doi.org/10.4108/eai.25-10-2019.2300491

Nowaz, T., Betin, S. O., Förster, L., Fernández, P., & Baena, Ó. J. R. (2025). Beyond Traceability: Leveraging Opportunities and Innovation in Chain of Custody Standards for the Mining Industry. Mining, 5(4), 61–61. https://doi.org/10.3390/mining5040061

Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, (2021).

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, (2020).

Nugroho, W. (2020). Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara. Pustaka Pelajar.

Ranggalawe, G. N., Susanti, I., & Kamal, F. (2023). DILEMA PENEGAKAN HUKUM PENYELESAIAN PERTAMBANGAN TANPA IZIN. Marwah Hukum, 1(1), 29–29. https://doi.org/10.32502/mh.v1i1.5600

Redi, A. (2023). Responsive Law Enforcement in Preventing and Eradicating Illegal Mining in Indonesia. Journal of Law and Sustainable Development, 11(8). https://doi.org/10.55908/sdgs.v11i8.1436

Rohman, A., Hartiwiningsih, H., & Rustamaji, M. (2024). Illegal mining in Indonesia: need for robust legislation and enforcement. Cogent Social Sciences, 10(1). https://doi.org/10.1080/23311886.2024.2358158

Simanjuntak, E. (2018). Perkara Advokasi Publik Pasca Berlakunya Undang-Undang Administrasi Pemerintahan (Uuap). Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 6(1), 14–14. https://doi.org/10.29303/ius.v6i1.535

Sittlington, S. B. K., & Harvey, J. (2018). Prevention of money laundering and the role of asset recovery. Crime Law and Social Change, 70(4), 421–441. https://doi.org/10.1007/s10611-018-9773-z

Suárez, L. M. (2019). Guilty Until Proven Innocent. eYLS (Yale Law School), 5(3), 1001–1019. https://doi.org/10.37419/jpl.v5.i3.10

Syahnur, S., & Diantimala, Y. (2021). “Surviving and growing up with illegal status”: The Analysis of Socio–Economic Household, Potential Conflict, the Environmental Damage, and Vulnerability of Local Community to Disaster. Journal of Sustainable Mining, 20(3), 157–177. https://doi.org/10.46873/2300-3960.1061

Tromme, M. (2019). Waging War Against Corruption in Developing Countries: How Asset Recovery Can be Compliant with the Rule of Law. Duke Journal of Comparative & International Law, 29(2), 165–233. https://scholarship.law.duke.edu/djcil/vol29/iss2/2

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, (2004).

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, (2014).

Utami, T., Solihah, S., Maulana, M., Adawiah, I. R., & Firdaus, M. (2025). Analisis Yuridis Terhadap Penerap Prinsip Legalitas Dalam Peraturan Perundang Undangan di Indonesia. Journal Customary Law, 2(3), 10–10. https://doi.org/10.47134/jcl.v2i3.4048

Wasiati, C., & Hartanto, H. (2020). Perizinan Sebagai Instrumen Pemanfaatan Hutan Masyarakat Hukum Adat. Jurnal Meta Yuridis, 87–109. https://doi.org/10.26877/m-y.v3i1.5755

Wibisana, A. G. (2017). Penegakan Hukum Lingkungan melalui Pertanggungjawaban Perdata. Jurnal Hukum & Pembangunan, 47(1), 1–32.

Wynn, J. (2020). Procedural Whipsaw: Allocating the Burden of Proving Reasonable Notice to Prisoners of Forfeiture Proceedings and the (Renewed) Call for Actual Notice. NCL Rev., 99, 247.

Downloads

Published

2026-09-24

How to Cite

Suhindra, A., & Sinaulan, R. L. (2026). Konstruksi Sita Administratif Komoditas PETI untuk Pemulihan Aset Negara. Journal of Law and Social Politics, 4(4), 761–778. https://doi.org/10.59261/jlsp.v4i4.169